TARAKAN – Kerjasama Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan antara Australia dan Indonesia, kini bertransformasi dari pendekatan berbasis pelatihan menjadi penguatan sistem pendidikan. Transformasi ini mendorong peningkatan kualitas pembelajaran secara lebih berkelanjutan di Kalimantan Utara (Kaltara). Kolaborasi yang telah berlangsung hampir satu dekade ini, telah menunjukkan dampak nyata di lapangan, terutama dalam penguatan praktik pembelajaran dan kebijakan pendidikan.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UBT, Dr. Arifin, M.Pd., menjelaskan perkembangan tersebut kepada Wakil Duta Besar Australia, Gita Kamath, saat melakukan kunjungan kerja ke UBT, Tarakan, Kamis (7/5). Ia menegaskan bahwa kerja sama kini tidak lagi terbatas pada pelatihan guru, melainkan telah terintegrasi ke dalam kebijakan, kurikulum, dan praktik pembelajaran.
“Pendekatannya sekarang sistemik, berbasis data dan kebutuhan di lapangan. Ini juga mencakup pengembangan mata kuliah yang relevan, terutama untuk konteks daerah terpencil,” ujar Arifin.
Lebih lanjut Arifin mengatakan kemitraan dengan INOVASI berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi siswa, penguatan pendidikan inklusif, serta pengembangan komunitas literasi. Selain itu, program juga mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, terutama di wilayah perbatasan dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks.
Implementasi di lapangan melibatkan dosen dan mahasiswa melalui berbagai kegiatan, seperti program rintisan, pelatihan pre-service dan in-service, pendampingan, seminar, riset, hingga advokasi kebijakan daerah. Hasilnya kemudian diintegrasikan ke dalam kebijakan akademik UBT sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis data dan bukti. FKIP UBT juga membekali calon guru dengan kompetensi mengajar di daerah terpencil lewat mata kuliah khusus, serta menyusun pedoman perlindungan dan kesejahteraan anak. Menurut Arifin, program literasi yang dijalankan telah menunjukkan perkembangan positif.
“Termasuk peningkatan kemampuan membaca siswa dalam program percontohan di Kota Tarakan periode 2024–2025,” katanya.
Wakil Rektor I UBT, Dr. Heppi Iromo, S.Pi., M.Si., mendorong perluasan kolaborasi ini melalui kerja sama antara UBT dan universitas di Australia. Menurutnya, kerja sama lintas negara membuka peluang peningkatan kapasitas dosen, pertukaran pengetahuan, serta penguatan riset yang relevan dengan kebutuhan daerah.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat diperluas, tidak hanya dalam pelatihan dan pendidikan guru, tetapi juga riset, pertukaran akademik, dan inovasi pembelajaran,” ujarnya.
Wakil Duta Besar Australia, Gita Kamath, turut mengapresiasi perkembangan kemitraan tersebut. Ia menilai kolaborasi UBT dan INOVASI telah menunjukkan perubahan nyata.
“Selama hampir satu dekade, kolaborasi ini terus berkembang, mencakup inovasi kurikulum, penguatan kelembagaan, serta pengembangan mata kuliah, termasuk untuk pendidikan di wilayah terpencil,” ujarnya.
Gita juga mendukung permintaan FKIP UBT terkait kerja sama dengan universitas atau institusi di Australia. Ia menegaskan bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas dalam hubungan Indonesia dan Australia. Melalui Program INOVASI, kedua negara berupaya memperkuat ekosistem pendidikan dengan melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat.
Ia berharap transformasi yang dibangun ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan mutu pendidikan di Kaltara. (*/red)




