Banner Header

Kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu

redaksi

Risnamajasari, M,Pd : Dosen STIT Al Anshar Tanjung Selor
Risnamajasari, M,Pd : Dosen STIT Al Anshar Tanjung Selor

TANJUNG SELOR – Kurikulum JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) adalah kurikulum yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan pendidikan Islam, mencakup kurikulum standar nasional, kurikulum khusus JSIT, dan kurikulum institusi lokal. Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan berilmu pengetahuan (intelektual), serta mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam setiap mata pelajaran umum dan kegiatan pembelajaran lainnya. Ciri sekolah yang menerapkan atau mengimplementasikan kurikulum JSIT yaitu sekolah IT (Islam Terpadu)

Karakteristik utama kurikulum JSIT

  • Integrasi: 

Menggabungkan kurikulum nasional (seperti KTSP atau Kurikulum Merdeka) dengan kurikulum khas JSIT yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sekolah yang di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berbasis IT (Islam Terpadu) menggabungkan materi pembelajaran umum dan pembelajaran keislaman secara khusus.

  • Terpadu: 

Mengintegrasikan pendidikan umum dan agama secara maksimal dalam proses pembelajaran, di mana nilai-nilai Islam diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran umum dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Holistik: 

Mendidik peserta didik secara utuh, mencakup aspek akal (kognitif), ruh (afektif), dan fisik (jasmani). 

  • Pembelajaran Inovatif: 
Baca juga  Pemprov Kaltara Pastikan Siswa Terdampak Kebakaran Desa Long Beluah Dapat Beasiswa Kaltara Unggul

Mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi dan inovatif untuk mengoptimalkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta menggunakan sumber belajar yang luas. 

  • Keterlibatan Stakeholder: 

Melibatkan dan menyelaraskan peran antara sekolah, keluarga (orang tua), dan masyarakat dalam proses pendidikan untuk menciptakan sinergi yang konstruktif. Keterlibatan orang tua menunjang pelaksanakan kurikulum JSIT di sekolah yang melakuakan boarding school.

Tujuan kurikulum JSIT

  • Menjamin mutu penyelenggaraan sekolah melalui manajemen mutu terpadu dan menumbuhkan profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan dalam bidang ilmu pendidikan agama Islam.
  • Menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan religius. 
  • Membentuk generasi yang berintegritas, berakhlak mulia, serta memiliki kesuksesan di dunia dan akhirat. 
  • Mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaborasi pada siswa. 
Baca juga  Sosialisasi Survei Seismik 3D Migas, Upaya Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Kaltara

Kelebihan kurikulum JSIT

  • Penerapan prinsip-prinsip Islam: Pembelajaran terintegrasi dengan nilai-nilai Islam, termasuk pembiasaan ibadah seperti shalat dhuha dan tadarus Al-Qur’an, untuk membentuk karakter religius siswa. Pembelajaran dengan menggunakan kurikulum JSIT lebih mengarah kepraktek keagamaan.
  • Fokus pembentukan karakter: Kurikulum ini bertujuan membangun karakter dan akhlak mulia melalui pembiasaan dan program pembinaan khusus (BPI) dalam presfektif Islam.
  • Program Al-Qur’an intensif: Banyak sekolah JSIT memiliki program tahsin (memperbaiki bacaan) dan tahfidz (menghafal) Al-Qur’an dengan metode khusus seperti Wafa, yang diajarkan dalam kelompok kecil dan bentuk hasil akhir dalam penilaian hafalan satu di antaranya adalah “tasmi”
  • Keterlibatan orang tua dan masyarakat: Kurikulum JSIT mendorong kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat untuk membina karakter dan kompetensi siswa.
  • Pembelajaran aktif: Menggunakan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, seperti problem-based learning dan cooperative learning, untuk melatih kemampuan pemecahan masalah dan berpikir tingkat tinggi. 

Kekurangan kurikulum JSIT

  • Sasaran kurikulum JSIT: Kurikulum JSIT hanya dapat digunakan sekolah yang seluruh siswa atau peserta didiknya beragama Islam.
  • Muatan kurikulum yang padat: Beberapa pihak menilai jam belajar siswa menjadi sangat padat karena sekolah harus menggabungkan kurikulum nasional dan kurikulum khas JSIT.
  • Bisa terasa memaksa: Sejumlah siswa mungkin merasa terbebani atau terpaksa dengan sistem yang sangat terstruktur dan pembiasaan yang ketat.
  • Kesiapan dan kompetensi guru: Implementasi yang efektif memerlukan guru yang siap secara mental dan memiliki pemahaman mendalam tentang integrasi kurikulum JSIT. Jika tidak, proses pembelajaran mungkin kurang maksimal.
  • Kebutuhan penyesuaian: Sekolah perlu melakukan penyesuaian kurikulum secara cermat agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa yang beragam. Kekurangan ini bisa muncul jika penyesuaian tersebut tidak dilakukan dengan optimal.
  • Lingkungan yang kurang mendukung: Kendala bisa muncul jika lingkungan sosial di luar sekolah kurang mendukung pembentukan karakter Islami, sehingga program pembinaan di sekolah tidak berjalan efektif.
Baca juga  Gelar Ramp Check, Petugas Masih Temukan Life Jacket Yang Tidak Layak Hingga APAR Kedaluwarsa

Penulis : Risnamajasari, M.Pd

Baca Juga

Tags