- Fokus pada dampak langsung ke peserta didik: Instrumen akreditasi tahun 2024 didesain lebih bermakna dengan mengukur aspek-aspek yang secara langsung memengaruhi layanan pendidikan bagi siswa. Hal ini mencakup kinerja pendidik, kepemimpinan kepala sekolah, iklim lingkungan belajar, dan hasil belajar siswa. Penilaian yang dilakukan sebanyak 14 (empat belas) butir dan setiap butir terdiri atas jumlah indikator yang berbeda.
- Terdapat Penilaian Khusus: Penilaian khusus pada pada iklim lingkungan belajar mulai dari kurikulum yang terdapat pembelajaran inklusi yang disusun ke dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau modul ajar. Pembelajaran inklusi didasarkan pada pembelajaran ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dan Anak yang berbagai karakter dalam menerima pembelajaran tipikal umum. Satuan Pendidikan menerima siswa yang normal dan tipikal khusus dengan membuat program atau SOP atau intrumen penilaian dari pembelajaran yang berbeda.
- Inklusif dan relevan lintas jenjang: Terdapat benang merah instrumen akreditasi untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, Dikdasmen, hingga PNF. Ini memungkinkan penggunaan butir-butir penilaian yang umum dan kontekstual sesuai kebutuhan setiap jenjang.
- Fleksibel dalam penilaian: Instrumen yang baru mengakomodasi beragam cara sekolah dalam menyajikan layanan pendidikan. Indikator keterpenuhan tidak bersifat kaku, sehingga memberi ruang bagi sekolah untuk membuktikan kondisi atau perilakunya secara bervariasi.
- Pendekatan berbasis kinerja: Terdapat pergeseran fokus dari sekadar kepatuhan ( compliance) terhadap standar menjadi pengukuran kinerja ( performance). Pendekatan ini diharapkan lebih mendorong peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan.
- Optimalisasi peran teknologi: Pelaksanaan akreditasi memanfaatkan platform seperti Sispena untuk mempermudah proses pengisian data bagi sekolah yang ditargetkan. Selain itu, data dari Asesmen Nasional (termasuk Rapor Pendidikan) digunakan sebagai dasar penilaian untuk komponen hasil belajar, mengurangi beban administrasi bagi sekolah.
Tantangan dan isu serta Solusi
- Kecurangan data: Terungkap kasus di mana sejumlah sekolah melakukan kecurangan dalam proses akreditasi. Ini menjadi tantangan besar yang mengancam kredibilitas hasil akreditasi dan memerlukan tindak lanjut serius dari pihak berwenang.
Solusi: Data yang menjadi penilaian digali lebih detail oleh asesor dengan menggunakan triagulasi data dengan lebih intens dan Instrumen penilaian yang dimiliki asesor dijaga kerahasiaannya oleh asesor yang menjunjung tinggi integritas penilaian dan hasil yang jujur.
- Kesiapan dan pemahaman instrumen baru: Meskipun instrumen akreditasi 2024 sudah disosialisasikan, masih ada sekolah yang memerlukan pendampingan intensif.
Solusi: Pelaksanaan sosialisasi secara menyeluruh dan transparan dengan melibatkan seluruh sekolah yang menjadi sasaran akreditas terutama sekoilah yang ada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
- Tantangan di era digital: Digitalisasi proses akreditasi membawa tantangan tersendiri, terutama bagi sekolah yang berada di daerah dengan akses internet terbatas atau SDM yang belum sepenuhnya melek digital.
Solusi: Pemasangan jaringan Internet diproritaskan dan dianggarkan oleh satuan pendidikan, agar mengetahui regulasi terbaru terkait dunia pendidikan.
- Proses yang masih terasa formalitas: Beberapa pihak masih beranggapan bahwa proses akreditasi, meskipun sudah diperbarui, masih sering dianggap sebagai tuntutan administratif semata, alih-alih sebagai dorongan nyata untuk perbaikan mutu. Diperlukan pendekatan yang lebih “humanis” untuk mendorong partisipasi aktif dari seluruh pihak sekolah.
Solusi: Pelaksanaan sosialisasi dalam memberi informasi pentingnya akreditasi lebih difokuskan sehingga dampak penyelenggaran akreditasi menjadi perhatian penuh oleh satuan pendidikan guna meningkatkan mutu pendidikan.
- Kurangnya sosialisasi merata: Meskipun sosialisasi dilakukan secara daring dan luring, jangkauan informasi yang tidak merata, terutama di daerah terpencil, dapat memengaruhi kesiapan sekolah sasaran.
Solusi: Sosialisasi akreditasi dilakukan secara merata dengan membentuk TIM sosialisasi secara kolektif dan mandiri dengan mendatangi sekolah-sekolah yang berada dalam wilayah 3T (Teringgal, Terdepan, dan Terluar).
Secara keseluruhan, pelaksanaan akreditasi sekolah 2024 menunjukkan upaya serius untuk mentransformasi sistem penilaian mutu pendidikan agar lebih relevan dan berdampak. Namun, tantangan seperti integritas data, adaptasi terhadap instrumen baru, dan kesenjangan digital masih menjadi isu penting yang perlu terus diatasi dan ada rencana tindak lanjut untuk setiap permasalahan.
Rusdiana. STIT Al Anshar Tanjung Selor 2024




